Tarekat Syadziliyah adalah ......
Tarekat Syadziliyah adalah salah satu tarekat sufi besar yang didirikan oleh Abu al-Hasan Ali asy-Syadzili pada abad ke-13 di Maghrib (Maroko modern). Tarekat ini menekankan dzikir, tawakal, dan keseimbangan antara kehidupan dunia dan spiritual, serta memiliki pengaruh luas hingga Mesir, Syam, dan Asia Tenggara termasuk Indonesia.
📖 Sejarah Singkat
Pendiri: Abu al-Hasan Ali asy-Syadzili (1196–1258 M), seorang wali besar dari Maroko.
Latar belakang: Beliau adalah keturunan ke-20 dari Rasulullah SAW melalui jalur Hasan bin Ali.
Pusat awal: Berkembang di Afrika Utara (Maroko, Tunisia), kemudian menyebar ke Mesir, Syam, dan dunia Islam lainnya.
Tokoh penting: Ibnu ‘Atallah al-Iskandari (penulis Al-Hikam), Ahmad Zarruq, dan Ahmad ibn Ajiba.
🕌 Ajaran Pokok Tarekat Syadziliyah
Dzikir dan wirid: menekankan dzikir hati dan lisan sebagai jalan menuju Allah.
Tawakal: menyerahkan segala urusan kepada Allah tanpa meninggalkan ikhtiar.
Keseimbangan dunia-akhirat: tidak meninggalkan kehidupan dunia, tetapi menjadikannya sarana ibadah.
Ilmu dan amal: menggabungkan tasawuf dengan syariat, sehingga tidak terlepas dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah.
Makrifat: mengenal Allah melalui hati yang bersih dan ibadah yang ikhlas.
🌍 Penyebaran
Afrika Utara: Maroko, Tunisia, Mesir.
Syam: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina.
Asia Tenggara: termasuk Indonesia, terutama melalui jaringan ulama sufi dan pesantren.
Di Indonesia: Tarekat Syadziliyah dikenal di kalangan pesantren tradisional, khususnya yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama.
📊 Perbandingan dengan Tarekat Lain
Tarekat Pendiri Fokus Utama Penyebaran
Syadziliyah Abu al-Hasan Ali asy-Syadzili Dzikir, tawakal, keseimbangan dunia-akhirat Afrika Utara, Syam, Asia Tenggara
Qadiriyah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Karomah, dzikir jahr, tarekat tertua Irak, Asia, Indonesia
Naqsyabandiyah Bahauddin Naqsyaband Dzikir khafi (dzikir dalam hati) Asia Tengah, Indonesia
Tijaniyah Ahmad al-Tijani Dzikir khusus, eksklusif tarekat Afrika Barat, sebagian Asia
⚠️ Catatan Penting
Syadziliyah berbeda dari tarekat lain karena menekankan hidup seimbang: tidak meninggalkan dunia, tetapi menjadikan dunia sebagai jalan menuju Allah.
Karya monumental: Al-Hikam karya Ibnu ‘Atallah menjadi pegangan utama murid Syadziliyah, hingga kini banyak dipelajari di pesantren Nusantara.
Relevansi di Indonesia: ajaran Syadziliyah sejalan dengan Islam Nusantara yang moderat, sehingga banyak diamalkan dalam majelis dzikir dan pengajian.
Komentar