Apa Itu Toriqoh Tijaniyah ? Siapa di Balik Toriqoh ini?
Tarekat Tijaniyah adalah salah satu tarekat sufi yang paling populer di dunia saat ini, dengan perkiraan lebih dari 100 juta pengikut, terutama di Afrika Utara dan Barat serta Indonesia.
Berikut adalah poin-poin utama mengenai sosok di balik tarekat ini dan karakteristik ajarannya:
1. Sosok di Balik Tarekat Tijaniyah
- Pendiri: Didirikan oleh Syekh Ahmad bin Muhammad at-Tijani (1737–1815 M) di Aljazair pada abad ke-18.
- Garis Keturunan: Beliau adalah seorang Sayyid yang garis keturunannya bersambung langsung kepada Nabi Muhammad SAW dari pihak ayah.
- Ijazah Langsung: Berbeda dengan tarekat lain yang memiliki silsilah guru bersambung (sanad), Syekh Ahmad al-Tijani mengaku menerima ajaran dan talqin wiridnya langsung dari Rasulullah SAW dalam keadaan terjaga (yaqazhah), bukan melalui mimpi. Hubungan ini dalam dunia tasawuf dikenal sebagai sanad barzakhi.
2. Apa Itu Tarekat Tijaniyah?
Tarekat ini adalah sebuah jalan spiritual (thariqah) menuju Allah yang menekankan pada penyucian jiwa melalui zikir yang intens namun dengan amalan yang relatif sederhana.
Karakteristik Utama:
- Tidak Berpolitik: Pengikutnya dilarang terlibat dalam politik praktis untuk menghindari permusuhan dan persaingan.
- Istilah Kepemimpinan: Tarekat ini tidak menggunakan istilah Mursyid, melainkan Muqaddam dan Khalifah untuk para pemimpin cabangnya.
- Eksklusivitas Amalan: Anggota Tijaniyah umumnya dilarang mengambil wirid atau masuk ke tarekat lain setelah berbaiat.
3. Amalan Pokok
Ajaran Tijaniyah berpusat pada tiga macam zikir utama:
- Zikir Lazimah: Dibaca sendiri-sendiri setiap pagi dan sore (Istighfar, Selawat, dan Lailahaillallah masing-masing 100x).
- Wazhifah: Zikir yang dilakukan berjamaah sekali dalam sehari semalam.
- Hailalah: Pembacaan kalimat Lailahaillallah minimal 1000x secara berjamaah setiap Jumat sore menjelang Magrib.
- Selawat al-Fatih: Salah satu selawat yang sangat diutamakan dalam tarekat ini karena dianggap memiliki keutamaan yang besar.
Di Indonesia, tarekat ini berkembang pesat di wilayah Jawa, seperti di Cirebon, melalui peran para Muqaddam awal seperti KH. Anas Abdul Jamil Buntet.
Komentar